Cerita Sukses

Kisah Sukses Guru Yang Menjadi Miliarder Properti

Mantan Guru Bahasa Inggris yang Menjadi Miliarder Properti

Pernah menjadi guru les bahasa Inggris, Cipto banting setir terjun ke bisnis kontraktor. Kini, ia menjadi pemilik Grup Nusuno dengan aset Rp 800 miliar.

Dengan penampilannya yang bersahaja, yang sehari-hari hanya menggunakan kemeja lengan pendek, celana panjang Cipto Sulistyo adalah salah satu pengusaha tob di negeri ini, dia adalah pengusaha properti yang telah membangun banyak properti hunian di banyak kota. Memang namanya tidak setenar Ciputra, Trihatma, atau Rudy Margono, namun nama Cipto dengan bendera grup Nusuno tidak dapat dipandang sebelah mata, banyak proyek kelas menengah yang digarapnya dengan aset rata-rata Rp800 miliar.

Di balik kesederhanaannya itu, ternyata Cipto adalah sosok yang workaholic. Kelahiran Jakarta, 3 April 1967, ini mengungkapkan, seandainya dalam sehari ada 36 jam, ia akan lebih banyak mencurahkan waktu untuk bekerja. Baginya, hidup ini adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Dengan kegigihannya itulah, tak mengherankan, ia menjadi orang sukses. Meski tidak dilahirkan dari kalangan keluarga pebisnis, ia mampu membuktikan dirinya bisa menjadi entrepreneur yang cukup diperhitungkan.

Lulusan Sastra Inggris Universitas Nasional, Jakarta, ini sempat mengajar bahasa Inggris di lembaga kursus LIA dan LPIA. Namun, akhirnya ia pindah jalur menjadi entrepreneur.Ketika memulai bisnis, ia menjadi kontraktor, dan kemudian berkembang menjadi developer kini telah membangun tak kurang dari 9 proyek hunian di Jabodetabek. Selain itu, ia memiliki bisnis institusi keuangan (bank perkreditan rakyat/BPR), lembaga pendidikan, minimarket, pabrik cat, toko material bangunan dan percetakan. Cipto menegaskan ”di dunia ini tidak ada orang bodoh atau pintar. Yang ada hanyalah orang malas dan rajin. Dan saya merasa tidak malas, sehingga semua pekerjaan bisa dikerjakan oleh orang yang tidak malas”. Ia menambahkan, kunci suksesnya terletak pada tiga hal: kerja keras, fokus pada pekerjaan, plus hoki.

Perjalanan bisnisnya bermula tahun 1990. ”Nusuno itu diambil dari nama tiga orang pendirinya,”ujarnya. Saat usianya 23 tahun, ia bersama dua temannya, Nuzulul Haque dan Danardono, mendirikan Nusuno yang awalnya membidangi jasa kontraktor dan konsultan perencanaan bangunan. Kebetulan kedua temannya yang dulu sama-sama sekolah di SMP 42, Jakarta Selatan. Dengan bergulirnya waktu Nusuno lambat laun menjadi besar yang rata-rata mengerjakan proyek senilai Rp 4-5 miliar dalam sebulan. Dalam perjalanannya, kedua teman Cipto tersebut tidak aktif dalam pengelolaan perusahaan. Sehingga, dialah yang menjadi nahkoda Nusuno dan selanjutnya menjadi pemilik tunggal.

Setelah sukses menggeluti bisnis kontraktor, Cipto tergiur menjajal bisnis properti. Mula-mula ia melakukan jual-beli tanah dan membangun ruko kecil-kecilan. Tak disangka, setiap transaksi selalu untung. Permodalan diambil dari keuntungan jasa kontraktor sebelumnya. Sayang, masa-masa emas mencetak duit itu tidak berlangsung lama. Tahun 1997, akibat badai krisis moneter, Nusuno limbung dan sempat terlilit utang Rp 15 miliar.

Boleh dibilang, setelah 1997 itu bisnis Nusuno masih kembang-kempis. Sampai akhirnya Dewi Fortuna datang lagi pada tahun 2000-an. Tepatnya, tahun 2004-06, saat booming dunia properti. Momentum itu tidak disia-siakan Cipto dengan memberanikan diri membangun perumahan.

Tahun 2004, Nusuno meluncurkan proyek properti perdana dengan skala medium. Namanya, Perumahan Puri Bintara di Bekasi seluas 6 hektare. Jenis rumah yang dipasarkan mulai dari tipe 64 dengan harga Rp 215 juta/unit. Lagi-lagi Cipto dinaungi hoki: dalam tempo 1,5 tahun, 300 unit rumah ludes diserap pasar. Tak puas cuma menangani Puri Bintara, ia kembali meluncurkan proyek baru bernama Bintara Estate di Bekasi juga. Di atas lahan seluas 1 ha itu, ia membangun town housesebanyak 60 unit dengan harga Rp 250-700 juta tiap unit, yang juga banyak diminati konsumen.

Cipto makin ketagihan membangun beberapa proyek permukiman. Maka, ia pun kemudian membangun Puri Juanda Regency di Bekasi Timur sebagai proyek ketiga. Dengan lahan 6 ha, perumahan itu terdiri atas 266 unit rumah dan banderolnya Rp 130 jutaan per unit. Proyek keempatnya, Puri Pakujaya. Perumahan yang berlokasi di Tangerang itu menempati lahan 2,2 ha dan terdiri atas 97 unit rumah tipe 39 seharga Rp 70 juta/unit. Sementara proyek perumahan kelima adalah Puri Kranji Regency di Bekasi, sebanyak 260 unit dengan luas tanah 4 ha.

Kendati sudah memiliki lima proyek perumahan di Bekasi dan Tangerang dengan skala menengah, Cipto masih haus ekspansi. Sasaran berikutnya adalah membangun perumahan kota mandiri yang menyedot dana lebih gede. Ada dua proyek terbaru: Grand Valley Residence di Depok seluas 33 ha dengan investasi Rp 1,3 triliun, dan kota mandiri Kalimalang Epicentrum seluas 21 ha dengan investasi Rp 800 miliar.

Bisnis apartemen juga dibidik Cipto. Sejauh ini setidaknya dua proyek apartemen telah dikembangkan Nusuno. Pertama, Apartemen Square Garden di Cakung, Jakarta Timur. Apartemen ini memiliki empat tower; satu tower terdiri atas 124 unit dengan harga Rp 109 juta/unit. Yang kedua, Apatermen Eastonia di Jatiwaringin, Pondok Gede, yang berdiri di atas lahan seluas 3 ha.

Mitra bisnis Cipto menilai Nusuno adalah the rising star. Hendra Bujang, misalnya, menganggap Cipto sebagai pengusaha yang punya kemauan keras. “Visi-misi bisnisnya sangat bagus. Saya optimistis Nusuno akan lebih maju dan menjadi the rising star jika tidak ada krisis lagi,” tutur Associate Director Danpac Asset Management itu memuji. Sebelumnya Danpac adalah advisor Nusuno dalam menangani restrukturisasi dan pengembangan bisnis.

Sejauh ini Danpac baru pertama kali melakukan sinergi pembiayaan. Kerja sama yang dilakukan adalah membiayai proyek Apartemen Eastonia senilai Rp 40 miliar. Adapun total nilai proyek Rp 70-90 miliar. ”Kami tertarik bekerja sama dengan Nusuno karena banyak potensi. Nusuno juga telah proven lolos dari krisis global. Pertimbangan lain, sektor bisnisnya terkait dengan kebutuhan riil masyarakat, seperti properti, lembaga pendidikan, minimarket dan kesehatan,” Hendra menguraikan.

Hendra juga mengkritik Nusuno. Sebagai private company, kekuasaan masih berpusat di tangan pemilik. Padahal, di luar banyak peluang bisnis yang harus segera ditangani, sehingga prosesnya agak sulit. Jadi, di level manajemen, ia menyarankan, perlu limit tertentu pada kebijakan Cipto. Dengan demikian, sebagian kewenangan penting didelegasikan ke para profesional. Untuk itu, pola manajemen kekeluargaan mesti dirombak

diambil dari sini

klik gambar untuk info lebih lanjut

 

 

 

Mahasiswa yang jadi milliuner lewat property


Penampilannya tidak menunjukkan bahwa dia merupakan profesional muda atau investor ulung. Lebih bergaya seperti anak kuliahan, tetapi nilai kekayaannya mencapai 5 juta yuan (USD732.500 atau Rp7,1 miliar).

Dialah Ma Wenya (21). Ketika lulus kuliah nanti, Ma tidak perlu pusing-pusing mencari pekerjaan. Hingga saat ini, Ma masih berstatus mahasiswa di Communication University of China (CUC) Beijing jurusan analisis pasar media. Tahun ini merupakan tahun terakhirnya duduk di bangku kuliah.

Di sela-sela kuliahnya, Ma memiliki sepak terjang di dunia bisnis. Dia bermain saham di bursa. Pria berkacamata itu juga ikut andil dalam bisnis properti. Jurus gerak cepat pun diterapkannya untuk mengumpulkan pundi-pundi keuntungan. Takdir berpihak dengan cepat kepada Ma sehingga 5 juta yuan dapat diraih sebelum dia mendapat gelar sarjana.

“Saya pindah bersama orangtua saya ke Shanghai dari Henan pada 2002. Yah, seperti kebanyakan orang lain, saya melihat bahwa Shanghai merupakan tempat di mana kekayaan itu berada. Saya melihat bahwa banyak orang kaya dengan uang dan mobil,”paparnya seperti dikutip dari Global Times.

“Ketika itu, saya pun bermimpi bahwa suatu hari nanti saya akan menjadi salah seorang dari orang kaya di Shanghai,” papar Ma.

Kata Ma, semuanya berawal dari mimpi untuk menjadi orang kaya. Itu yang menjadi semangat untuk maju dan berkembang. Dengan mimpi itu, semua orang akan menyatukan niat dan perbuatan untuk meraih cita-cita tanpa memandang risiko yang ada di depan mata. Berawal dari mimpi itulah Ma memberanikan diri menginvestasikan uangnya pada 2003.

Ketika itu, Ma baru berusia 15 tahun. Uang senilai 20.000 yuan (Rp28 juta) itu dikumpulkannya dari angpao saudara-saudaranya selama perayaan Tahun Baru China. Ma berusaha meyakinkan orangtuanya agar mengizinkan dia menginvestasikan uang itu untuk membeli sebuah vila di distrik Minhang, Shanghai. Ketika itu, harga per meter persegi mencapai 4.000 yuan.

Setelah berinvestasi, Ma tidak berhenti sampai di sana. Dia selalu memantau investasinya. Dia pun selalu membaca berita keuangan lokal untuk mengetahui isu-isu terbaru serta rumor yang berkembang. Ketika teman-temannya masih sibuk bermain dan jatuh cinta pada pandangan pertama, Ma justru asyik memantau perkembangan investasi vilanya.

Ma yakin bahwa vilanya bakal mendatangkan keuntungan. Kenapa? Ketika itu, Ma berpikir bahwa lokasi vilanya sangat strategis dan bergaya arsitektur Barat yang sedang populer. “Vila itu memang benar-benar selera saya. Orangtua saya pun sepakat untuk merestui saya membeli vila tersebut dan ikut membantu pembayarannya,” katanya.

Tanpa pemahaman mengenai keuangan dan bisnis properti, Ma pun menasihati orangtuanya untuk menjual vila itu satu tahun setelah pembelian. Nah, nilai per meter persegi vila itu mencapai 8.000 yuan atau dua kali lipat dibandingkan pada waktu pembelian. Akhirnya, Ma pun mendapatkan keuntungan senilai 80.000 yuan dari investasinya.

“Saya sangat senang dengan keuntungan pertama yang diraih. Saya pun berpikir begitu pentingnya untuk hidup mandiri,” papar Ma.

Dengan keuntungan itu, Ma pun terus mengkaji dan mempelajari kesempatan investasi selanjutnya. Di sela-sela beraktivitas rutin di SMA, Ma melihat peluang untuk kembali berinvestasi di dunia properti.

“Saya berinvestasi di 10 proyek properti di Shanghai dalam jangka waktu selama tiga tahun. Semuanya menghasilkan keuntungan, tak ada yang merugi. Pada saat saya masih SMA, bisnis properti masih berjalan dengan normal,” cerita Ma.

Ketika lulus SMA, Ma pun telah mengumpulkan kekayaan senilai 500.000 yuan. Prestasi Ma di SMA tergolong biasa-biasa saja. Tak ada yang menonjol. Ma beralasan bahwa waktunya justru lebih banyak untuk mempelajari ilmu ekonomi dan keuangan sehingga nilai-nilai kelasnya sering melorot. Namun, kata Ma, itu adalah risiko dari sebuah pilihannya untuk bermain-main di dunia properti.

Akibatnya, nilai ujian Ma untuk masuk universitas terendah di kelasnya. Ma pun memilih kuliah di CUC pada 2006. Dia mengambil jurusan penelitian pasar media karena memberikan banyak waktu luang baginya untuk fokus pada investasi. Bisa dikatakan, Ma memang lebih fokus terhadap investasinya dibandingkan kuliahnya. Bagi dia, kuliah tetap penting sebagai bekal, investasi adalah segalanya untuk masa depan. Kadang kepercayaan diri yang berlebihan juga memberikan pelajaran yang sangat berharga. Itu pula yang dialami Ma. Ketika tahun pertamanya di kampus, Ma mengubah pola investasinya dari bisnis properti ke pasar modal.

Berbeda dengan pengalaman pertama investasi propertinya meraih keuntungan, pengalaman pertama investasi di pasar modal justru mengalami kerugian cukup besar. “Sebenarnya saya telah mulai berinvestasi di pasar sudah sejak SMA. Namun, ketika itu hanya buat senang-senang saja,” ujar Ma seperti dikutip dari Xinhua.

Baru ketika kuliah, dia ingin fokus di investasi pasar modal. Pada akhir 2007, Ma justru mengalami kerugian 200.000 yuan dari total investasinya 500.000 yuan. Namun, potensi kerugian itu tidak berlangsung lama. Dengan pengalaman itu, Ma pun bersikap hati-hati dalam merumuskan investasi di pasar modal.

“Nilai saham-saham saya mulai merangkak naik. Saya merasa di atas kepala dan memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam dunia investasi,” katanya.

Tak ada pahlawan yang memenangi 100% medan pertempuran. Setelah beberapa kali kekalahan di bisnis pasar modal, Ma memilih beristirahat sejenak sambil menunggu kesempatan untuk kembali ke panggung investasi.

Pada tahun ini, Ma memilih kembali berinvestasi di dunia properti. Dia melihat ada peluang yang menguntungkan di Xianghe, Provinsi Hebei, China. Dia pun membeli dua vila dari seorang investor.

“Ketika itu, saya hanya memiliki uang 500.000 yuan dan tentunya tidak bisa berinvestasi di Beijing,” katanya.

Jatuh bangun dalam investasi yang dilakukan Ma menjadikannya dia lebih tegar dan berani dalam melangkah. Risiko yang sangat tinggi dalam bisnis keuangan tidak membuat mata Ma terus menutup dan berhenti untuk melompat lebih tinggi.

diambil dari berbagai sumber… (maaf linknya lupa)

klik gambar untuk info lebih lengkap

 

Fauzi Saleh Pengusaha Perumahan Sukses…

Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya.

Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.

Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.

Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada di atas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.

Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya.

Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu.

“Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.

Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman, sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.

Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil.

Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2.

Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.

Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan.

Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi> seperti ini.

“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi.

“Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalaukita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.

Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri.

“Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya.

Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial.

“Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi.

Elang Gumilang , Mahasiswa beromset milyaran…

Sumber ide bisnisnya feeling dan Shalat Istikharah. Di usia 22 tahun dan berstatus mahasiswa Elang Gumilang sudah menjadi pengusaha properti beromset miliaran rupiah.

Menyenangkan melihat seseorang yang telah dianggap sukses membangun bisnis. Namun harap diingat bahwa sesuatu yang tampak di permukaan lantas mencerminkan keadaan secara keseluruhan. Bunyi pepatah, even Rome was not built in a day ketika berlaku di dunia usaha. Maknanya perusahaan skala besar sekalipun pasti diawali dari yang kecil. Dan proses ke arah itu bisa dipastikan tidak selalu semulus jalan tol. Maka seseorang yang hendak menjadi seorang pengusaha, ibarat kata ada dua pilihan, mau jadi intan dan batu kali. Batu kali hanya mengalami proses metamorfosa dari magma cukup satu kali, sedangkan intan mengalami proses berkali-kali sebelum akhirnya menjadi lebih indah, mahal, dan bernilai. Pengusaha yang ingin sukses berarti harus bisa menikmati proses, bisa menikmati setiap tempaan.

Elang Gumilang, dalam usianya yang 22 tahun sudah menghayati betul filosofi bisnis tersebut. Semenjak kecil gemar belajar bisnis, seperti jualan mainan tanah liat, korek api-korek apian, dan sebagainya, akhirnya jiwa dagangnya mulai terasah. Meskipun keluarganya tidak mengarahkan menjadi seorang entrepreneur, jauh-jauh hari telah insyaf, apabila tidak ingin terikat pekerjaan, pertama kali orang harus bisa bebas secara finansial dan waktu. Maka Direktur PT. Dwikarsa Semestaguna, sebuah perusahaan pengembang tersebut mulai berbisnis serius sewaktu masih duduk di bangku SMU. Pagi-pagi subuh ia sudah berangkat mengambil  dagangan ke pabrik roti donat, lalu mengedarkan ke sekolahan-sekolahan. Alasannya singkat, sebelum masuk universitas dia harus sudah dapat mengumpulkan modal Rp10 juta.

Seperti dituturkan, harapan Elang mengumpulkan modal usaha sebenarnya bisa terpenuhi sesuai target, namun karena sesuatu hal akhirnya uang Rp10 juta hanya tersisa Rp1 juta. Namun pemenang lomba Java Economic se-Jawa yang mengantarkan kuliah Fakultas Manajemen IPB itu pantang surut. Berturut-turut aneka bisnis ia jalankan sambil kuliah. Sehingga ketika sekarang ini kuliahnya tinggal skripsi, sekaligus ia telah berhasil menjadi pengusaha properti beromset miliaran.

“Saya cuma punya uang Rp1 juta, awalnya bingung bisnis apa. Akhirnya saya bisnis sepatu,” Elang mengawali ceritanya. Dengan sisa uang yang ada kelahiran Bogor, 1985 itu mengambil dagangan sepatu dari distributor dan menawarkan ke tiap-tiap pintu kos mahasiswa. Ternyata hasilnya lumayan, per bulan paling tidak ia mendapat tambahan uang saku Rp3 juta. Bisnis itu berjalan sekitar 6 bulan, sampai suatu ketika ia hampir ditipu oleh supplier dan menghentikan kerja sama.

Berhenti dagang sepatu, Elang melirik jasa pengadaan lampu dan alat listrik. Usaha ini sempat berjalan beberapa lama dan bahkan bisa dibilang nyaris tanpa modal. Proyek pertama yang didapat adalah penerangan untuk asrama IPB nilainya Rp50 juta. Selain itu ia sempat pula menjadi pemasok minyak goreng ke toko-toko di wilayah sekitar kampus IPB serta mendirikan lembaga kursus bahasa. “Dosen saya bilang, kalau mahasiswa bisnis yang tepat pakai otak, bukan mengandalkan otot,” ujarnya menyinggung alasannya berhenti berjualan minyak goreng dan membuka lembaga bahasa.

Tidak berhenti di situ, dari hasil merenung Elang beranggapan bisnis yang paling aman tidak lain adalah bisnis properti. Sampai akhirnya dia pun terjun ke bisnis ini, mulai menjadi pemasar hingga ikut tender, sebagai kontraktor. Tetapi, walaupun memperoleh untung lumayan, baginya menjadi kontraktor ternyata kurang nyaman.

“Kebetulan pada waktu itu ada tanah yang bisa diakuisisi, tapi nilainya miliaran. Rasanya tidak mungkin mahasiswa seperti saya mengakuisisi tanah yang nilainya miliaran,” sambungnya bercerita pertama kali tertarik menjadi developer. Untuk itu, Elang mulai mencari pinjaman modal. “Strategi pertama saya pakai KTA (kredit tanpa agunan). Ternyata malah susah, setiap bulan saya punya tanggungan Rp8,6 juta selama 2 tahun. Tahun pertama, selama 6 bulan saya pusing,” akunya. Dan setelah mencoba beberapa upaya lain, menurutnya langkah yang paling tepat adalah melakukan patungan modal bersama teman-temannya.

Elang GumilangElang berpendapat, sejatinya bisnis apa saja bisa dilakukan asalkan seseorang sudah memiliki arah yang jelas, tujuannya apa. “Banyak orang mempunyai uang dan kemampuan tetapi tidak dapat segera memulai bisnis, sebabnya karena kurang memiliki tujuan jelas, dan kedua, kurang memiliki rasa tawakal ke Allah. Jadi niatnya itu apa, harus memiliki tujuan yang jelas. Tetapi kalau sekadar tujuan dunia itu juga sangat dangkal. Melainkan harus jadi ladang amal untuk kehidupan akhirat kita,” ia mewanti-wanti.

Lebih lanjut, Elang bertutur datangnya ide memulai usaha ketika seseorang mampu menangkap peluang serta melihat potensi yang dimiliki. “Jadi kita melihat dulu, di sini butuh lampu, di sini selisih minyak antara toko dengan kilang selisihnya Rp500,00/kg, sepatu yang dipunyai teman-teman bisa lebih murah dibanding harga pasar karena tidak lewat toko. Saya bikin lembaga bahasa karena saya lihat lembaga bahasa yang ada mahal-mahal sekali. Selain itu, saya juga ingin bisa belajar bahasa tetapi gratis,” ujarnya menjelaskan pengalamannya ketika melihat peluang lalu digabungkan dengan potensi. “Melihatnya kalau saya lebih pada feeling, dan shalat istikharah,” imbuhnya.

Sementara itu, menyinggung soal bisnis plan, meski diperlukan tetapi bagi Elang justru terlalu jelimet. “Kalau menurut saya, perencanaan itu perlu, tapi bukan jaminan. Saya justru punya pendapat, semuanya tergantung kepada Allah. Jadi yang paling utama bagaimana supaya Allah berkehendak kita sukses,” tegas peraih gelar wirausaha muda terbaik 2007 itu.

Begitu pun ketika menyinggung cara memperoleh permodalan usaha. Bahkan menurutnya dia tidak mungkin bisa seperti sekarang kalau tidak memperoleh kemudahan jalan dari Tuhan. Karena modal usahanya kebanyakan diperoleh dari dana-dana pribadi, tentu saja syarat utama, sebagai pribadi dia harus bisa menunjukkan karakter yang memiliki kredibilitas. Misalnya, di antara teman-teman kuliahnya, semua tahu ia tidak pernah nyontek karena dia ingin menjadi orang yang bisa dipercaya.
“Lama-kelamaan timbullah kepercayaan. Dari kepercayaan itu timbullah kredibilitas. Bagaimana kita dapat modal kalau orang tidak punya kepercayaan kepada kita. Jadi yang utama menurut saya kredibilitas. Alahmdulillah sampai sekarang bisnis-bisnis itu semuanya juga on the track,” ungkapnya penuh syukur. Apalagi setelah suka-duka berbisnis pernah dialami. Dua tahun awal berbisnis properti, diakui, ia pernah berada pada situasi sama persis seperti dengan Nabi Yunus, terjebak dalam tiga kegelapan. Yaitu memiliki tanggungan KTA Rp 8,6 juta/bulan, membayar jaminan sebesar Rp50 juta, dan harus menanggung biaya hidup sendiri karena persoalan ekonomi keluarga

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 130 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: